3.07.2011

Narxizus Travelingcuz

Last weekend, my bestfriends came to my place, its Bandung. We got along together after a 'disaster' last time. We went to some fun places in Bandung city. First, we went to Asia-African Conference museum. The idea of establishing the Museum of the Asian-African Conference had been materialized by Joop Ave, the Executive Chairman of the Committee of the 25th Anniversary of the Asian-African Conference and Director General of Protocol and Consular in the Department of Foreign Affairs . I saw Netherlands awesome old architecture building when I was walking around there.








Second, we went to The Postal Museum. The existence of museum Pos Indonesia, which located not far from Gedung Sate, not loses from the journey of histories Pos Indonesia enterprise. This building established on July 27 1920 with wide of the building 706 meters, designed by Architect Ir. J. Berger and Leutdsgebouwdienst with Italian architecture from renaissance and colleted of stamps from any country. Because of break out the World War II at final 1941, period of Japanese, and independent revolution, cause Museum PTT not be interest, although the existence nearly forgotten. For doing their function as a museum, on 1980 management of Perum Pos and dan Giro formed a unit to rekindle again the existence of Museum PTT. Coincide of the birth day Postel to 38, on September 27, 1983 this museum opening by tourism and telecommunication ministry, Achmad Tahir and namely Museum Pos dan Giro.








Third, we went to Cihampleas Walk (Ciwalk) Cihampelas Walk is a different area, beautiful and clean it was conditioned visitors to be more comfortable shopping. A walk in Cihampelas at noon, afternoon, and night will feel different atmosphere.





Kartini bukan Feminis





Alasanku menulis catatan ini tak lain hanyalah manifestasi sebuah memoar tentang masa kecil. Bongkar-bongkar meja dan menemukan foto seorang gadis kecil berkebaya dan keberatan sanggul. Gadis kecil itu aku. Dengan balutan jarik yang sedemikian menjerat kedua kaki dan dan ikatan stagen yang membuat perutnya sesak, gadis itu sama sekali tak tampak menderita dalam foto itu. Meski bayangan sederhana yang muncul pertama kali di kepala gadis itu adalah: menjadi perempuan jawa itu ribet. Namun ia bangga mengenakan busana yang amat jarang dikenakannya itu. Ia membayangkan bahwa ia akan nampak anggun, tangguh dan mandiri dengan baju kebaya itu, seperti ibunya ketika menghadiri acara-acara resmi dengan kebaya.

21 April 1993, gadis itu berdebar-debar menantikan tanggal itu. Akhirnya, hari itu semakin dekat. Malam sebelum hari itu jatuh, gadis itu tak dapat memejamkan matanya. Seperti halnya ketika menjelang idul fitri. Kini aku merasa "Ih, dulu tu ga penting banget deh,". Esoknya, sang ibu mendandaninya hingga berjam-jam. Si gadis harus bangun pagi. Ia yang biasanya susah dibangunkan, pada hari itu ia terjaga hingga pagi.

Begitu ia selesai didandani, betapa terkejutnya begitu ia sampai di sekolah kanak-kanaknya. Tak satupun dari teman-teman perempuannya yang mengenakan kebaya. Pada umumnya, mereka mengenakan baju polisi, dokter, perawat, atau setelan blazer dengan tentengan tas kantor. Seluruh kelas pun memandangi gadis itu. Sang gadis tetap tak canggung, bahkan kebanggaannya tak berkurang. Ia pun bertanya pada sang guru.

"Bu, mengapa kok teman-teman tak ad ayang memakai kebaya?"

"Karena, perempuan kini boleh bekerja seperti laki-laki. Boleh jadi dokter atau polisi. Semua yang diberikan dan dikerjakan anak laki-laki, perempuan harus memperolehnya juga. hari ini, kita memmeringati hari dimana R A Kartini memperjuangkan kesamaan perempuan dan laki2," jawab si guru.

Si gadis tak puas dengan jawaban bu guru. Namun, ia menelan mentah-mentah penjelasan si guru. Sejak hari itu, ia meyakini bahwa perempuan tak boleh kalah dengan lelaki. Pun hingga tahun-tahun berikutnya, gadis itu selalu mendengar di kelas hingga televisi bahwa hari kartini erat dengan emansipasi dan kesetaraan. Toh ibunya berhasil sendirian membesarkan si gadis dan kedua kakaknya tanpa mengeluh apalagi bergantung pada makhluk yang bernama le.. la.. ki. Gadis itu kagum pada ibunya dan seluruh perempuan2 mandiri sampai kapanpun.

Hingga di suatu titik, delapan belas tahun, ia mengenal islam dan menyadari banyak yang bertentangan dengan prinsip emansipasi dan kesetaraan dalam islam. Tak puas dengan pertentangan tersebut, ia pun mencari banyak tafsir dan tak mudah percaya pada pengajian yang minim diskusi itu, ustad selalu benar. Menyebalkan. Ia pun sedikit menjaga jarak dengan islam. Hingga akhirnya ia menemukan kata-kata seorang Quraish Shihab bahwa satu ayat firman Alloh dalam Al Quran itu bak kristal permata, memiliki banyak sisi tafsir namun setiap sisi memancarkan keindahannya. Perlahan, ia menelusuri tafsir tentang gender dalam Al Quran. Ternyata, tafsiran ayat Tuhan pun bisa politis. Mengerikan!

Kini, si gadis berusia 23 tahun, ia hanya tersenyum kecil mengingat perjalanan pembagian peran gender yang berawal dari kejadian belasan tahun silam itu. Meski hingga kini si gadis masih dalam proses pencarian tafsir kontekstual alias bukan dari pemahaman transnasional, si gadis meyakini bahwa tak ada yang salah dengan peran apapun yang dimainkan perempuan.

Beberapa bulan yang lalu, gadis itu tak sengaja menemukan literatur tentang Kartini di perpustakaan yang didirikan penjajah nenek moyangnya dulu. Ia membaca petikan-petikan surat kartini kepada sahabatnya di Belanda. Ia menyadari sekaligus mengetahui bahwa perjuangan Kartini pun bermuara pada nilai-nilai agama yang bertentangan dengan feminisme. Sebagaimana selama ini dikenalnya dalam beberapa buku-buku tentang kartini, perempuan bangsawan itu digolongkan sebagai seorang feminis. Dalam hal ini feminisme dimaknai bahwa perempuan berhak memperjuangkan hak asazinya bahwa harus setara dengan lelaki.

Si gadis kini pun meragukan bahwa benarkah 'Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903' benar-benar mencerminkan jiwa feminis dari seorang kartini? . Fakta dalam surat-surat itu meruntuhkan keyakinan si gadis sekaligus menyakinkannya bahwa: Isu pembagian peran dan hak-hak gender yang diperjuangkan Kartini pada akhirnya digunakan sebagai legitimasi atas pergerakan kaum feminis di Indonesia.

Simak kutipan berikut:

"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.

... Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai. (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902)"

Jelas gagasannya diatas bertentangan dengan gerakan feminis dimana perempuan yang menuntut untuk tak menjalankan hak-haknya sebagai ibu pun layak dibela. Kini, bukankah sudah sepatutnya kaum perempuan di Indonesia mendekonstruksi kembali makna perjuangan Kartini yang sebenarnya? Sebab, mendekonstruksi wacana sejarah tak akan membuat kita menderita lantaran tertinggal kereta modernisasi. Justru mungkin itu akan jadi refleksi yang menuntun bagi pemahaman untuk mengambil sikap lebih lanjut.



Jelang sebulan Katinian, pagi yang dingin di Bandung.

3.01.2011

Refreshing my mind at Kawah Putih











That was the first time i visited the awesome Kawah Putih. Aaaand... Heaven!!! This crater is pretty fucking impress me; the weather, the wind, and the sun. I think you can feel the comtemplation without a round of the bush photo essay from me. A photo can tell a lot of anything. The most important thing in a meaningful photo isn’t about what kind of kamera that u use, but it is about your own feeling and ability of photography- Bagas Perdana, my forever bestfriend taught me that, may he rest in peace. Located at Ciwidey, Kabupaten Bandung, West Java, Indonesia, you can also visit Situ Patenggang Lake and strawberry agrotourism.